Minggu, 2009 Mei 24

LOGO ADALAH CITRA

Pertanyaan :
Saya melihat banyak orang suka membuat Logo sebuah usaha tapi tidak cantik dan seenaknya, bahkan setelah jadi pun suka tidak standar dalam meletakkan Logo tersebut di media seperti pada kemasan, stationery, banner, iklan dan lainnya. Huruf sering tidak konsisten, warna juga tidak sama satu dengan yang lain. Bagaimana sebaiknya ?
(Bayu Gautama – Magelang)


Sebuah pertanyaan yang bagus yang coba saya jelaskan secara singkat dipemaparan di bawah ini. Tetapi kita perlu pemahaman terlebih dahulu arti Logo yang sesungguhnya karena masyarakat masih menganggap bahwa Logo adalah sama dengan Lambang atau Simbol. Lebih khusus lagi adanya kerancuan pengertian antara Logo dengan Corporate Identity, Trademark, Brandname atau Mascot. Hal ini terjadi karena banyaknya definisi tentang Logo yang dikeluarkan oleh berbagai sumber. Tapi dari beberapa referensi dapat disimpulkan bahwa pengertian Logo adalah cap dagang atau merk dari produk, perusahaan, organisasi atau lembaga untuk keperluan komunikasi, perdagangan dan perlindungan hukum. Merk ini didesain dengan bagus dan diaplikasikan secara konsisten pada beberapa media komunikasi.

Jika sebuah Logo dirancang dengan baik dan diaplikasikan secara konsisten, baik kandungan warnanya, typografinya, komposisi dan tata letaknya, maka keseluruhan program ini yang dinamakan Corporate Identity atau Identitas Kelembagaan.
Dalam sebuah Corporate Identity, Logo diciptakan dengan proses kreatif dan aturan-aturan standard dalam mengaplikasikannya. Proses kreatif ini adalah saat penciptaan desain, pemilihan huruf, warna, maupun elemen desain yang lain. Tapi standard aturan yang harus dijalani dalam aplikasi di semua media adalah standard baku yang harus dilaksanakan. Seperti standard warna, jenis huruf, skala bentuk adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Sehingga logo sebagai citra dari sebuah perusahaan dapat tercermin dari visualisasi logo tersebut.

Contoh fenomenal yang masih bisa kita ingat adalah saat penciptaan Logo Garuda Indonesia oleh Walter Landor Associates yang menghabiskan biaya milyaran Rupiah puluhan tahun silam, bagi kita seperti tonggak pembelajaran kreatifitas penciptaan sebuah Logo. Bahwa Logo ternyata tidak hanya terdiri dari huruf dan warna saja, tapi didalamnya terdapat nilai-nilai filosofi dan citra dari perusahaan yang akan melekat dimana saja Logo itu berada. Bagaimana kita bisa bayangkan bila konsistensi aplikasi di media komunikasi dilakukan tanpa standard yang baku. Logo Garuda Indonesia akan di tempatkan di stationery seperti kartu nama, kertas surat,merchandiser kecil seperti kemasan tusuk gigi sampai Logo di badan pesawat dengan ukuran yang sangat raksasa. Untuk itulah saya menekankan bahwa standard ini adalah sebuah keharusan.

Sebegitu pentingnya arti Logo, sampai beberapa perusahaan melakukan pembaharuan dari logo yang sudah kita kenal selama ini, karena selalu saja yang namanya “baru” menyimpan sebuah optimisme ke depan. Demikian pula dengan penggantian logo perusahaan, terasa ada semangat baru yang ingin dikedepankan. Tidak hanya sign board, kop surat atau tanda-tanda perusahaan lain yang baru. Visi perusahaan pun ikut diubah seiring dengan pergantian tersebut.

Cermin dari pembaharuan itu terlihat dari komponen-komponen logo tersebut seperti warna, bentuk, dan tulisan. Meski banyak orang yang tidak menyadari hubungan antara komponen logo tersebut dengan semangat baru perusahaan, namun kenyataannya sebuah logo seringkali merangsang penglihatan kita untuk mencari tahu apa yang ada di balik logo tersebut.
Sayangnya banyak perusahaan juga yang tidak peduli dengan logo. Apalagi untuk perusahaan-perusahaan berskala kecil, logo sekadar menjadi identitas dan penyederhanaan dari merek. Desain logo diserahkan kepada desainer yang tidak memahami nilai-nilai perusahaan dengan baik.

Tidak semua perusahaan memang memahami cara mengembangkan merek dengan baik. Kalaupun mau berkonsultasi dengan pakar, mereka harus keluar biaya yang tidak sedikit. Tidak cukup melalui konsultan lokal, kadang-kadang konsultan luar pun harus dipergunakan untuk sekadar berpikir tentang desain logo. Excelcomindo Pratama misalnya, harus mengelurkan sedikitnya 1 miliar rupiah untuk mengganti logo mereka lewat tangan konsultan asing dari Australia, Cornwell Brand. Prosesnya pun tidak sebentar karena memakan waktu berbulan-bulan.

Logo sendiri sebenarnya hanya sebagian dari strategi menciptakan ekuitas merek yang kuat. Seperti dikatakan oleh Jovan Tay, Director Brandz, penciptaan logo sebenarnya hanya sebagian dari upaya penciptaan identitas merek. Konsultan merek yang berlokasi di enam negara di Asia ini kini masuk ke pasar Indonesia dengan pertimbangan bahwa pengembangan merek di Indonesia (termasuk di Asia) terbilang belum canggih. Apalagi jika berkeinginan untuk menjadi merek global. Menurut Jovan, merek tidak bisa dibangun secara sembarangan dan logo sendiri sebenarnya hanya sebagian dari output yang dihasilkan dari kegiatan membangun merek.

Masihkah anda akan meremehkan Logo sebagai Corporate Identity perusahaan anda ?

Sabtu, 2009 Maret 07

Jumat, 2009 Maret 06

Kemasan Adalah Menjual Apa Yang Dilindungi (1)

Saya mempunyai usaha pembuatan makanan ringan yang dijual dalam kemasan kecil, saya mempunyai masalah bagaimana membuat kemasan yang baik dan mampu bersaing dengan produk yang lain ? (Lisa – Kediri Jawa Timur)

Saya saat ini sedang memproduksi T-shirt untuk dijual secara distro, apa yang harus saya lakukan agar kemasannya unik, tidak hanya sekedar dibungkus dengan plastic Polibag saja ? (Edi Suhendro – Bogor )


Dari pertanyaan diatas saat ini kita mulai melihat kesadaran para pelaku usaha untuk memikirkan kemasan yang baik untuk produk dagangannya, karena mereka mulai menyadari arti penting kemasan untuk menunjang pemasaran produk mereka.
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini dimana situasi persaingan usaha semakin tajam, estetika dapat berfungsi sebagai “perangkap emosional” yang sangat ampuh untuk menarik perhatian konsumen. Persaingan produk di lapangan tidak hanya sebatas pada kualitas produk dan teknologinya saja, tapi juga pada usaha untuk mendapatkan nilai tambah yang dapat memberikan emotional benefit kepada konsumen
Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk menghadapi persaingan ini adalah melalui desain kemasan. Daya tarik suatu produk tidak dapat terlepas dari kemasannya. Kemasan merupakan “pemicu” karena ia langsung berhadapan dengan konsumen. Karena itu kemasan harus dapat memberikan respon yang positif, dalam hal ini membeli produk, karena tujuan akhir dari pengemasan adalah untuk menciptakan penjualan.

Ada tiga alasan utama untuk melakukan pengemasan :
1. Kemasan memenuhi syarat keamanan dan kemanfaatan, kemasan melindungi produk dalam perjalanannya dari produsen ke konsumen.
2. Kemasan dapat melaksanakan program pemasaran. Melalui kemasan identifikasi produk menjadi lebih efektif dan merupakan satu-satunya cara perusahaan membedakan produknya.
3. Kemasan merupakan suatu cara untuk meningkatkan laba perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus membuat kemasan semenarik mungkin, karena dengan cara ini dapat memikat dan menarik perhatian konsumen.

Hermawan Kartajaya, dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global” mengatakan bahwa teknologi telah membuat packaging berubah fungsi, dulu orang bilang “ Packaging protects what its sells (Kemasan melindungi apa yang dijual)”. Sekarang “ Packaging sells what its protects (Kemasan menjual apa yang dilindungi)”. Dengan kata lain kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah tapi harus dapat menjual produk yang dikemasnya.

Perkembangan fungsional kemasan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, sekarang ini kemasan sudah berfungsi sebagai media komunikasi. Misalnya pada kemasan tertentu seringkali ada pesan tentang “menjaga lingkungan” sebagai salah satu kampanye global warming dari suatu produk.
Kemasan juga dapat berfungsi untuk mengkomunikasikan suatu citra tertentu. Contohnya, produk-produk makanan Jepang. Orang Jepang dikenal pintar membuat kemasan yang bagus. Permen Jepang seringkali lebih enak dilihat dari pada rasanya. Mereka berani menggunakan bahan-bahan mahal untuk membungkus produk yang dijual. Walaupun tidak ada pesan khusus tapi kemasannya mampu mengkomunikasikan citra yang baik.
Untuk itu kemasan yang baik dalam pasar harus mempertimbangkan dan dapat menampilkan beberapa factor antara lain :
1.Faktor Pengamanan
Kemasan harus mampu melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi sebab timbulnya kerusakan barang. Misalnya : cuaca, sinar matahari, jatuh, tumpukan, kuman, serangga dan lain-lain.
2.Faktor Ekonomi
Perhitungan biaya produksi yang efektif termasuk pemilihan bahan, sehingga biaya tidak melebihi proporsi manfaatnya.
3.Faktor Pendistribusian
Kemasan harus mudah didistribusikan dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Bentuk dan ukuran kemasan harus direncanakan dan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak sampai menyulitkan peletakan di rak atau tempat pemajangan.
4.Faktor Komunikasi
Sebagai media komunikasi kemasan menerangkan dan mencerminkan produk, citra merek, dan juga bagian dari produksi dengan pertimbangan mudah dilihat, dipahami dan diingat.
5.Faktor Ergonomi
Pertimbangan agar kemasan mudah dibawa atau dipegang, dibuka dan mudah diambil sangatlah penting.
6. Faktor Estetika
Keindahan pada kemasan merupakan daya tarik visual yang mencakup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, logo, ilustrasi, huruf, tata letak, sampai pada mascot. Tujuannya adalah untuk mencapai daya tarik visual lebih maksimal.
7.Faktor Identitas
Secara keseluruhan kemasan harus berbeda dengan kemasan yang lain, mempunyai identitas produk agar mudah dikenali dan dibedakan dengan produk yang lain.
8.Faktor Promosi
Kemasan mempunyai peranan penting dalam promosi, dalam hal ini kemasan berfungsi sebagai silent sales person. Peningkatan kemasan dapat menarik perhatian konsumen-konsumen baru.
9.Faktor Lingkungan
Kita hidup diera industry dan masyarakat yang berfikir kritis. Untuk itu sekarang banyak perusahaan yang sudah menggunakan kemasan yang ramah lingkungan (environmentally friendly), dapat didaur ulang (recyclable) atau dapat dipakai ulang (reusable)
Faktor-faktor ini merupakan satu kesatuan yang sangat vital dan saling mendukung dalam keberhasilan penjualan, terlebih di masa sekarang dimana persaingan sangat ketat dan produk dituntut untuk dapat menjual sendiri. Penjualan maksimum tidak akan tercapai apabila secara keseluruhan penampilan produk tidak dibuat semenarik mungkin. Keberhasilan penjualan tergantung pada citra yang diciptakan oleh kemasan tersebut. Penampilan harus dibuat sedemikian rupa agar konsumen dapat memberikan reaksi secara spontan, baik secara sadar atau tidak. Setelah itu diharapkan konsumen akan terpengaruh dan melakukan tindakan positif, yaitu melakukan pembelian di tempat penjualan.

Kemasan Adalah Menjual Apa yang Dilindungi (2)

Bagaimana dengan Desain Kemasan ?
Kunci utama untuk membuat desain kemasan yang baik adalah kemasan tersebut harus simple, fungsional dan menciptakan respon positif yang secara tidak langsung berkata “Belilah saya.” Kemasan harus dapat menarik perhatian secara visual. Emosional dan rasional. Sebuah desain kemasan yang bagus memberikan sebuah nilai tambah terhadap produk yang dikemasnya.
Menurut penelitian, dari seluruh kegiatan penginderaan manusia, 80% adalah penginderaan melalui penglihatan atau kasatmata (Visual). Karena itulah unsur-unsur grafis dari kemasan antara lain warna, bentuk, merek, ilustrasi, huruf dan tata letak merupakan unsur visual yang merupakan peran terbesar dalam proses penyampaian pesan secara kasatmata.
Agar berhasil, maka penampilan kemasan harus mempunyai daya tarik. Dan daya tarik kemasan dapat digolongkan menjadi dua yaitu daya tarik visual dan daya tarik fungsional.
1.Daya Tarik Visual
Daya tarik visual mengacu pada penampilan kemasan yang mencakup unsur-unsur grafis yang telah disebutkan. Semua unsur grafis tersebut dikombinasikan untuk menciptakan suatu kesan yang member daya tarik secara optimal. Daya tarik visual sendiri berhubungan dengan factor emosi dan psikologis yang terletak pada bawah sadar manusia. Desain yang baik harus mampu mempengaruhi konsumen untuk memberikan respon positif tanpa disadarinya.
Sering terjadi konsumen membeli produk yang tidak lebih baik dibanding produk yang lain walaupun harga lebih mahal. Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa terdapat daya tarik tertentu yang mempengaruhi konsumen tanpa disadarinya. Misalkan kemasan produk sabun mandi yang dapat menampilkan visual kelembutan akan memberikan efek psikologis bahwa konsumen akan merasakan kulitnya lebih lembut setelah memakai sabun tersebut.

2.Daya Tarik Fungsional
Daya tarik ini merupakan efektivitas dan efisiensi suatu kemasan yang ditujukan kepada konsumen maupun distributor misalkan unuk kemudahan penyimpanan dan pemajangan produk, tapi ada daya tarik fungsional yang lain seperti :
a.Dapat melindungi produk
b.Dapat digunakan untuk fungsi yang lain selain hanya sebagai kemasan
c.Mudah dbuka atau ditutup kembali untuk disimpan
d.Dapat diisi ulang (Refill)
e.Mudah dibawa, dijinjing atau dipegang.

Dalam pemasaran dikenal 4 elemen penting dalam strategi pemasaran yaitu Product, Price, Place dan Promotion, namun dewasa ini banyak pakar pemasaran menganggap kemasan (Packaging) sebagai P kelima dalam strategi pemasaran.
Sebuah kemasan yang berhasil merupakan perpaduan antara pemasaran dan desain. Seorang desainer berfikir lebih subyektif dan kreatif mencari ide, sedang seorang pemasar lebih berfikir secara obyektif dan market oriented. Akan tetapi dibalik perbedaan tersebut ada satu kesamaan tujuan, yaitu mendapatkan respon positif dari pengamat sasaran. Karena itu seorang desainer kemasan perlu mengerti konsep dasar pemasaran dan hubungannya dengan visualisasi. Sebaliknya seorang pemasaran perlu mengerti cara visualisasi konsumennya.

Masih menurut Hermawan Kartajaya, kita tidak boleh menganggap remeh estetika atau desain. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah produsen yang ikut serta dalam persaingan pasar. Dahulu ketika produk di pasar masih sedikit, estetika tidak punya arti apa-apa di mata konsumen. Konsumen tidak peduli dengan bentuk produk yang unik, pilihan kemasan yang lain dari pada yang lain. Tapi kini ketika informasi sangat mudah didapat dan diakses dari berbagai sumber seperti Koran, majalah, televise, hingga internet, maka mau tidak mau estetika memegang peranan penting dan menjadi nilai tambah disamping kualitas produk dan layanan pasca jual.

Rabu, 2009 Januari 07

www.designer-republic.com

Selasa, 2009 Januari 06

Merancang Strategi Inovasi

Hidup barangkali kini terasa makin nyaman, dan untuk itu kita layak memberikan ucapan terima kasih pada para inovator yang telah mempersembahkan aneka produk inovatif dihadapan kita. Dua puluh tahun silam, kita mungkin tak pernah membayangkan betapa kita bisa melayangkan sederet kalimat romantis pada kekasih kita melalui medium SMS. Atau, juga melakukan chatting dengan kawan diseberang samudera melalui fasilitas internet. Karena itu, siapa tahu dua puluh lima tahun lagi kita bisa menikmati mobil terbang, melayang diatas jalanan kota Jakarta sambil menikmati pendaran emas menara Monas?

Ya kini tiap hari rasanya kita senantiasa disuguhi aneka produk yang menawarkan sejumput inovasi demi sebuah kenikmatan hidup. Mulai dari produk kamera digital, internet banking, media televisi diatas screen telpon genggam, hingga produk celana-dalam-sekali-pakai-kemudian-dibuang. Hidup memang terus bergerak, dan setiap perusahaan seperti dipacu untuk terus meluncurkan aneka produk baru. Dengan kata lain, tanpa inovasi, sebuah perusahaan hampir pasti akan terpelanting mati dalam sirkuit persaingan bisnis yang kian brutal. Persoalannya kemudian adalah : bagaimana caranya suatu perusahaan bisa menjadi lebih inovatif; bukan hanya dalam aneka produk yang dibuat, namun juga dalam rangkaian proses pengelolaan manajemennya? Sejumlah penyelidikan menyebut tiga aspek kunci yang layak digenggam dalam perlombaan menjadi sang jawara inovasi.

Aspek yang pertama adalah, penciptaan iklim inovasi dalam denyut kehidupan suatu perusahaan. Tentu saja harus segera disebut bahwa penciptaan iklim ini tidak hanya dapat dilakukan melalui aneka slogan atau lips service belaka. Iklim ini hanya bisa mekar melalui sistem pengelolaan manajemen yang demokratis, bergerak cair dalam lintas departemen, dan diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka terhadap beragam ide baru, betapapun radikalnya ide baru itu. Dalam kenyataannnya, pola kepemimpinan yang demokratis bahkan disebut sebagai faktor kunci bagi mekarnya kreativitas diantara para karyawan. Tanpa pola kepemimpinan yang empowering, maka barisan karyawan yang penuh daya kreativitas sekalipun, niscaya akan layu dan tenggelam dalam frustasi lantaran ide-idenya selalu terbentur dengan tembok birokrasi yang mematikan.

Aspek yang kedua, adalah adanya visi dan arah yang jelas mengenai strategi perusahaan menghadapi lansekap pasar masa depan. Tanpa strategi yang jelas, acapkali proses inovatif yang telah dimunculkan hanya akan berputar-putar ditempat tanpa mampu diterjemahkan menjadi produk unggul yang menguntungkan dan menang di pasaran. Kisah klasik yang tragis mengenai kehebatan para peneliti di Xerox mungkin layak disebut disini.
Pada tahun 70an, para peneliti Xerox inilah yang pertama kali menemukan teknologi mouse, dan juga tampilan windows yang kini menghiasi setiap layar komputer. Namun tragisnya, para petinggi Xerox tidak mampu melihat itu semua sebagai strategi penciptaan produk yang menguntungkan. Pada akhirnya, perusahaan lainnya yang kemudian mengeksploitasi beragam temuan inovatif itu menjadi aneka produk legendaris. Pesannya barangkali jelas : sebuah perusahaan mesti menempatkan segenap proses inovasinya dalam payung strategi yang jelas mengenai masa depan. Tanpa itu, maka proses inovasi yang melelahkan hanya akan berujung pada kegagalan yang tragis.

Aspek yang terakhir
yang juga layak diperhatikan ketika perusahaan hendak berinovasi adalah kepekaan mengantisipasi kebutuhan masa depan pelanggan. Keberhasilan fenomenal Apple dalam mendesain dan menjual iPod sungguh tak lepas dari kepaiawaian mereka dalam mengendus perubahan gaya hidup pelanggan menuju digital lifestyle. Dan kini, mereka mencoba menduplikasi kesuksesan iPod dengan meluncurkan iPhone, sebuah produk inovatif yang mengundang banyak decak kagum.
Kisah sukses Apple ini mengindikasikan bahwa strategi inovasi yang jitu mesti harus selalu ditautkan dengan dinamika kebutuhan pelanggan, atac acap disebut sebagai customer driven innovation strategy.
Proses menjadi perusahaan yang inovatif memang tidaklah mudah. Dibutuhkan energi, nafas yang panjang dan juga kreativitas yang jempolan untuk melaksanakan tiga aspek diatas secara optimal. Namun kini ketika hidup terus bergerak kearah yang makin hiper-modern, barangkali pilihannya memang tinggal inovasi atau mati. Mati pelan-pelan dalam kuburan produk-produk usang yang membosankan.

Sumber : Yodia Antariksa
http://strategimanajemen.net

2009 Tahun Indonesia Kreatif

Pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Indonesia Kreatif (TIK), yang sekaligus bertepatan dengan peringatan Hari Ibu yang ke-80 dan Satu Abad Kebangkitan Perempuan Indonesia. Acara pencanangan dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemukulan gong 3 dimensi dan peluncuran film animasi Kabayan 3 dimensi di Jakarta Convention Center (JCC), Senin pekan lalu.
Pencanangan TIK ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengembangkan ekonomi gelombang keempat yang mempunyai prospek yang cerah terutama di tengah krisis global sekaligus mendorong agar kaum perempuan mengambil peran yang lebih besar dalam mengembangkan industri kreatif di tanah air.

“Salah satu peluang yang sangat potensial untuk kaum pengusaha perempuan adalah sektor industri kreatif. Jenis industri ini memberikan fleksibilitas kerja yang lebih tinggi dibanding cara-cara kerja konvensional, karena pelakunya tidak lagi harus terpaku bekerja di kantor atau pabrik-pabrik, tetapi dapat melakukan pekerjaan mereka dimana pun, termasuk di rumah. Model bekerja seperti ini dapat dimanfaatkan ibu-ibu yang memilih basis kerja di rumah,” kata Menteri Perdagangan (Mendag), Dr Mari Elka Pangestu, usai acara Launching Tahun Indonesia Kreatif 2009 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Peringatan Hari Ibu ke-80 itu.

Dari data yang ada, tercatat bahwa sebagian besar industri kreatif yang berkembang di Indonesia masuk katagori Usaha Kecil Menengah (UKM) dan menurut data statistik 60% dari 85,4 juta tenaga kerja di sektor UKM adalah perempuan. Jadi keterlibatan kaum perempuan dalam dunia usaha, khususnya usaha kecil-kecilan, cukup signifikan.

Peran perempuan dalam sektor ekonomi sangat luas dimensinya karena tidak hanya terbatas pada keterlibatan fisik sebagai pelaku usaha, tetapi juga meliputi sisi penting seperti dalam proses pendidikan dan pembentukan insan kreatif dimana para ibulah yang banyak mengarahkan masa depan putra-putri mereka. Jumlah putra-putri kita yang dibawah 14 tahun sejumlah 66 juta atau 30% dari penduduk Indonesia kaum perempuan, juga merupakan penentu pilihan barang yang akan di konsumsi dalam rumah tangga.

“Disamping itu, sikap cinta produk dalam negeri ditumbuhkan dalam keluarga melalui pilihan-pilihan konsumsi yang sebagian besar ditentukan oleh para Ibu. Oleh karena itu perlu ditekankan kepada kaum Ibu agar mengajarkan anak-anak mereka untuk gemar menggunakan produk dalam negeri, mulai dari makanan, pakaian dan keperluan lainnya. Dengan demikian, akan mendorong permintaan terhada produk-produk dalam negeri, termasuk produk-produk industri kreatif dalam negeri, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia,” tutur Mari Pangestu.

Sektor ekonomi kreatif, menjadi semakin penting karena krisis ekonomi global mengharuskan setiap negara didunia termasuk Indonesia untuk dapat bersaing dan melakukan diversifikasi produk untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Mari, menambahkan, kondisi tersebut harus dipecahkan dengan mendorong suatu bentuk perekonomian yang lebih berdaya saing, bersumber daya yang terbarukan dan berkesinambungan berbasis kreativitas yang dikenal sebagai ekonomi kreatif dimana ide atau gagasan dapat memberikan kesejahteraan secara ekonomi maupun sosial dan dapat menjadi solusi profesional.

Maka tidak mengherankan, jika pemerintah sejak tiga tahun terakhir selalu mencari peluang untuk memsosialisasikan ekonomi kreatif ini kepada masyarakat sehingga mendorong perkembangan sektor ekonomi yang memiliki potensi yang luar biasa besar ini. Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2002-2006 kontribusi ekonomi kreatif adalah 6,3% dari total nilai PDB nasional. Dari segi penyerapan tenaga kerja, jumlah orang yang bekerja pada sektor ekonomi kreatif sebanyak 5,4 juta dari total jumlah tenaga kerja Indonesia 93,3 juta atau 5,8% dari total tenaga kerja.

Pada masa yang akan datang, diharapkan masyarakat akan lebih memahami industri kreatif sehingga mereka akan membangkitkan minat mereka khususnya generasi muda untuk terjun ke industri kreatif, sehingga tercipta industri basis ekonomi kreatif yang lebih kokoh yang mampu menciptakan barang dan jasa inovatif yang berbasis kreatifitas. Tujuan lain dari program ini adalah terbukanya wawasan seluruh pemangku kepentingan akan kontribusi industri kreatif terhadap ekonomi Indonesia dan terciptanya citra bangsa yang positif.

Mari, juga menekankan, pentingnya pengembangan jejaring antar para pemangku kepentingan ekonomi kreatif dengan lebih mengaktifkan Jaringan Ekonomi Kreatif Indonesia (JEKI)/Indonesian Creative Economy Network yang sudah ada.

“Melalui jejaring ini diharapkan dapat terjadi pertukaran informasi, pengalaman, sehingga akan meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif. Selain itu juga, dapat meningkatkan akses pasar dan tentunya juga peningkatan sinergi berbagai pihak pemangku kepentingan yang terkait khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif,” jelas Mari.

Pencanangan Tahun Indonesia Kreatif (TIK) 2009, salah satu tindak lanjut penting dalam mengimplementasikan Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia sepanjang tahun 2009. Pada tagun 2009, secara lebih luas Pemerintah juga sudah masuk pada tahap implementasi Cetak Biru Ekonomi Kreatif, dimulai dengan program aksi yang terkoordinasi dari masing-masing instansi pemerintah terkait sesuai arahan Presiden.

Turut hadir dalam acara itu, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono beserta isteri Ani Yudhoyono. Wakil Presien RI, M Jusuf Kalla beserta isteri, Mufidah Jusuf Kalla, pejabat Lembaga Tinggi Negara, Menteri Kabinet Indonesia beserta isteri. Gubernur DKI Jakarta, H Fauzi Bowo beserta Isteri. Para Gubernur beserta isteri. Para pejabat Eselon I dan II dari masing-masing Departemen terkait, para Rektor dari berbagai Perguruan Tinggi terkait. Ibu-Ibu berbagai organisasi baik di Pusat dan Daerah dan para pelaku Ekonomi Kreatif Indonesia. (mur)

Sumber : www.madina-sk.com